Metode
Analisis Geokimia
A. PENDAHULUAN
1. Latar
Belakang
Dalam
hal ini kita kan lebih banyak membahas proses kimia yang terjadi dilautan. Khususnya
kita akan membahas mengenai Geokimia. Geokimia merupakan salah satu disiplin
ilmu yang ada saat ini. Geokimia berasal dari dua buah disiplin ilmu yaitu ilmu geologi dan kimia. Hal ini bukan merupakan
penggabungan ilmu, namun merupakan disiplin ilmu yang hanya membantu
menjelaskan fenomena fenomena geologi yang terjadi dan ditinjau dari sisi kimianya. Sebelum masuk lebih dalam
mempelajari Geokimia kita harus memahami ilmu geologi terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan untuk
memudahkan dalam memahami ilmu geokimia. Ilmu Geologi sendiri
terdiri dari banyak cabang, diantaranya: mineralogi, petrologi, sedimentologi,
geomorfologi, paleontologi, geologi struktur stratigrafi dan lain lain.
B. PERKEMBANGAN GEOKIMIA
Lahirnya
geokimia sebagai cabang ilmu geologi baru menyebabkan munculnya metoda dan data
observasi baru mengenai berbagai hal yang banyak menarik perhatian para ahli
sedimentologi. Sebagian besar penelitian geokimia pada mulanya diarahkan pada
penelitian kuantitatif untuk mengetahui penyebaran unsur-unsur kimia di alam,
termasuk penyebarannya dalam batuan sedimen. Lambat laun data tersebut menuntun
para ahli untuk memahami apa yang disebut sebagai siklus geokimia (geochemical
cycle) serta penemuan hukum-hukum yang mengontrol penyebaran unsur dan
proses-proses yang menyebabkan timbulnya pola penyebaran unsur seperti itu.
Baru-baru
ini, kimia nuklir (nuclear chemistry) menyumbangkan sebuah “jam” dan
“termometer” yang pada gilirannya membuka era penelitian baru terhadap sedimen.
Unsur-unsur radioaktif, khususnya 14C dan 40K,
memungkinkan dilakukannya metoda penanggalan langsung terhadap batuan sedimen
tertentu. Metoda 14C, yang dikembangkan oleh Libby, dapat diterapkan
pada endapan resen. Metoda 40K/40Ar terbukti dapat
diterapkan pada glaukonit, felspar autigen, mineral lempung, dan silvit yang
ditemukan dalam endapan tua. Analisis isotop dapat digunakan untuk menentukan temperatur
purba. Metoda Urey berdasar-kan nisbah 16O/18O yang
merupakan fungsi dari temperatur—dapat dipakai untuk menaksir temperatur
pembentukan cangkang fosil yang ada dalam endapan bahari. Meskipun “jam” dan
“termometer” tersebut masih memperlihatkan kekeliruan, namun harus diakui bahwa
keduanya telah memberikan kontribusi yang berarti terhadap pemelajaran sedimen.
Van’t
Hoff adalah orang pertama yang memanfaatkan azas fasa untuk mempelajari
kristalisasi larutan garam dan pembentukan endapan garam. Mulanya
penelitian eksperimental terhadap campuran yang dapat menghasilkan kristal,
terutama sistem silikat temperatur tinggi, dilakukan oleh para ahli petrologi
batuan beku dan metamorf. Baru pada beberapa dasawarsa terakhir ini saja hal
itu menarik perhatian para ahli sedimen. Sebagai contoh, Milton & Eugster
(1959) memakai ancangan itu untuk meneliti endapan non-marin dan
mineral-mineral yang mencirikan Green River Formation di Wyoming dan Colorado.
Zen (1959) menunjukkan bahwa azas fasa yang dikemukakan oleh Gibbs dapat
diterapkan untuk menganalisis hubungan antara mineral lempung dan mineral
karbonat. Hasil penelitian Zen kemudian diterapkan oleh Peterson (1962)
terhadap larutan karbonat di bagian timur Tennessee. Perkembangan metoda yang
relatif baru itu dapat dibaca dalam karya tulis Eugster (1971).
Berbagai
kajian teoritis dan eksperimental tentang stabilitas mineral pada berbagai
kondisi oksidasi-reduksi (Eh) dan pH dilakukan oleh Garrels dan beberapa ahli
lain (lihat Garrels & Christ, 1965). Penelitian aspek-aspek geokimia
sedimen banyak menambah pengertian kita tentang endapan sedimen. Buku-buku yang
membahas tentang topik-topik geokimia sedimen antara lain adalah Geochemistry
of Sediments karya Degens (1965) dan Principles of Chemical
Sedimentology karya Berner (1971).
Aplikasi
atau contoh nyata yang dapat dilihat dari geokimia salah satunya adalah metode
yang digunakan oleh sedimentologist dalam mengumpulkan data dan bukti pada
sifat dan kondisi depositional batuan sedimen, yaitu analisis kimia dari batu,
melingkupi geokimia isotop, termasuk penggunaan penanggalan radiometrik, untuk
menentukan usia batu, dan kemiripan dengan daerah sumber. Metode ini pertama
kali dipakai pada tahun 1970an dimana penelitian sedimentologi mulai beralih
dari makroskopis dan fisik ke arah mikroskopis dan kimia. Dengan perkembangan
teknik analisa dan penggunaan katadoluminisen dan mikroskop elektron
memungkinkan para ahli sedimentologi mengetahui lebih baik tentang geokimia.
Perkembangan yang pesat ini memacu kita untuk mengetahui hubungan antara
diagenesa, pori-pori dan pengaruhnya terhadap evolusi porositas dengan
kelulusan batupasir dan batugamping.
Saat
ini berkembang perbedaan antara makrosedimentologi dan mikrosedimentologi.
Makrosedimentologi berkisar studi fasies sedimen sampai ke struktur sedimen. Di
lain fihak, mikrosedimentologi meliputi studi batuan sedimen di bawah mikroskop
atau lebih dikenal dengan petrografi.
Eksplorasi geokimia = mengkonsentrasikan pada
pengukuran kelimpahan, distribusi, & migrasi unsur-unsur bijih atau yang
berhubungan dengan bijih dengan tujuan mendeteksi endapan bijih. Spesifiknya =
pengukuran sistematis satu atau lebih unsur jejak dalam contoh (batuan, tanah,
air dll) untuk mendapatkan anomali geokimia (konsentarsi abnormal unsur tertentu
yang kontras terhadap lingkungan = background geokimia).
C. DEFINISI
DAN KONSEP DASAR
Ada
banyak definisi tentang geokimia, tetapi definisi yang dilakukan oleh
Goldschmidt menekankan pada dua aspek yaitu:
·
Distribusi unsur dalam bumi
(deskripsi).
·
Prinsip-prinsip yang mengatur
distribusi tersebut di atas (interpretasi).
Geokimia adalah ilmu yang
mempelajari kandungan unsur dan isotop dalam lapisan bumi, terutama yang
berhubungan dengan kelimpahan (abundant), penyebaran serta hukum-hukum yang mengontrolnya. Dari dasar ini berkembang
beberapa cabang ilmu geokimia di antaranya yaitu geokimia panasbumi, geokimia
mineral, geokimia petroleum dan geokimia lingkungan.
Pada
dasarnya definisi ini menyatakan bahwa geokimia mempelajari jumlah dan distribusi
unsur kimia dalam mineral, bijih, batuan tanah, air, dan atmosfer. Tidak terbatas pada
penyelidikan unsur kimia sebagai unit terkecil dari material, juga kelimpahan
dan distribusi isotop-isotop dan kelimpahan serta distribusi inti atom.
Eksplorasi
geokimia khusus mengkonsentrasikan pada pengukuran kelimpahan, distribusi, dan
migrasi unsur-unsur bijih atau unsur-unsur yang berhubungan erat dengan bijih,
dengan tujuan mendeteksi endapan bijih. Dalam pengertian yang lebih sempit
eksplorasi geokimia adalah pengukuran secara sistematis satu atau lebih unsur
jejak dalam batuan, tanah, sedimen, sungai aktif, vegetasi, air, atau gas,
untuk mendapatkan anomali geokimia, yaitu konsentrasi abnormal dari unsur
tertentu yang kontras terhadap lingkungannya (background geokimia).
1. Prinsip Dasar Prospeksi/Eksplorasi Geokimia
Prospeksi/eksplorasi geokimia pada dasarnya terdiri dari dua metode:
A. Metode yang menggunakan pola dispersi mekanis diterapkan pada mineral yang relatif stabil pada kondisi permukaan bumi (seperti: emas, platina, kasiterit, kromit, mineral tanah jarang). Cocok digunakan di daerah yang kondisi iklimnya membatasi pelapukan kimiawi.
B. Metode yang didasarkan pada pengenalan pola dispersi kimiawi.Pola ini dapat diperoleh baik pada endapan bijih yang tererosi ataupun yang tidak tererosi, baik yang lapuk ataupun yang tidak lapuk. Pola ini kurang terlihat seperti pada pola dispersi mekanis, karena unsur-unsurnya yang membentuk pola dispersi bisa:
· Memiliki mineralogi yang berbeda pada endapan bijihnya (contohnya: serussit dan anglesit terbentuk akibat pelapukan endapan galena).
· Dapat terdispersi dalam larutan (ion Cu2+ dalam airtanah berasal dari endapan kalkopirit).
· Bisa tersembunyi dalam mineral lain (contohnya Ni dalam serpentin dan lempung yang berdekatan dengan sutu endapan pentlandit).
· Bisa teradsorbsi (contohnya Cu teradsosbsi pada lempung atau material organik pada aliran sungai bisa dipasok oleh airtanah yang melewati endapan kalkopirit).
· Bisa bergabung dengan material organik (contohnya Cu dalam umbuhan atau hewan).
2. Daur Geologi
Semua endapan bijih adalah produk dari daur yang sama di dalam proses-proses geologi yang mengakibatkan terjadinya tanah, sedimen dan batuan. Gambar 1 merupakan ringkasan dari daur geologi dan contoh-contoh tipe bijih yang dihasilkan pada berbagai stadia daur.
3. Dispersi
Dispersi geokimia adalah proses menyeluruh tentang transpor dan atau fraksinasi unsur-unsur. Dispersi dapat terjadi secara mekanis (contohnya pergerakan pasir di sungai) dan kimiawi (contohnya disolusi, difusi dan pengendapan dalam larutan).
Tipe dispersi ini mempengaruhi pemilihan metode pengambilan contoh, pemilihan lokasi contoh, pemilihan fraksi ukuran dan sebagainya. Contohnya dalam survey drainage pertanyaan muncul apakah contoh diambil dari air atau sedimen, jika sedimen yang dipilih, haris diketahui apakah pengendapan unsur yang dicari sensitif terhadap variasi pH (contohnya adsorpsi Cu oleh lempung) atau kecepatan aliran sungai (contohnya dispersi Sn sebagai butiran detrital dari kasiterit). Jika adsorpsi dari ion-ion yang ikut diendapkan dicari dalam tanah atau sedimen, maka fraksi yang halus yang diutamakan, jika unsur yang dicari hadir dalam mineral yang resisten, maka fraksi yang kasar kemungkinan mengandung unsur yang dicari.
4. Lingkungan Geokimia
Lingkungan geokimia primer adalah lingkungan di bawah zona pelapukan yang dicirikan oleh tekanan dan temperatur yang besar, sirkulasi fluida yang terbatas, dan oksigen bebas yang rendah. Sebaliknya, lingkungan geokimia sekunder adalah lingkungan pelapukan, erosi, dan sedimentasi, yang dicirikan oleh temperatur rendah, tekanan rendah, sirkulasi fluida bebas, dan melimpahnya O2, H2O dan CO2. Pola geokimia primer menjadi dasar dari survey batuan sedangkan pola geokimia sekunder merupakan target bagi survey tanah dan sedimen. Mobilitas unsur adalah kemudahan unsur bergerak dalam lingkungan geokimia tertentu. Beberapa unsur dalam proses dispersi dapat terpindahkan jauh dari asalnya, ini disebut mudah bergerak atau mobilitasnya besar, contohnya: unsur gas mulia seperti radon. Rn dipakai sebagai petunjuk dalam prospeksi endapan Uranium.
Mobilias unsur akan berbeda dalam lingkungan yang berbeda, contohnya: F bersifat sangat mobil dalam proses pembekuan magma (pembentukan batuan beku), cebakan pneumatolitik dan hidrotermal, namun akan sangat tidak mobil (stabil sekali) dalam proses metamorfose dan pembentukan tanah. Bila F masuk ke air akan menjadi sangat mobil kembali.
Unsur yang berbeda yang ditemukan dalam suatu endapan bisa memiliki mobilitas yang sangat berbeda, sehingga mungkin tidak memberikan anomali yang sama secara spasial. Misalnya: Pb dan Zn sangat sering terdapat bersama-sama (berasosiasi) di dalam endapan bijih (di dalam lingkungan siliko-alumina), sedangkan dalam lingkungan pelapukan Zn yang jauh lebih mobil daripada Pb akan mudah mengalami pelindian, sehingga Pb yang tertinggal akan memberikan anomali pada zona mineralisasinya. Contoh lainnya:
· Emas yang tahan terhadap larutan akan tertinggal dalam gossan.
· Galena terurai perlahan dan menghasilkan serusit dan anglesit yang relatif tidak larut. Oleh karena itu Pb cenderung tahan dalam gossan.
· Mineral sulfida Cu, Zn dab Ag mudah terurai dan bermigrasi ke level yang lebih rendah membentuk bijih oksida yang kaya atau bijih supergen.
5. Unsur Penunjuk
Karena unsur-unsur memperlihatkan mobilitas yang berbeda (dikontrol oleh perbedaan stabilitas dan oleh lingkungan tempat mereka bermigrasi) sering dilakukan penggunaan unsur penunjuk dalam prospeksi suatu unsur. Unsur penunjuk adalah suatu unsur yang jumlahnya atau pola penyebarannya dapat dipakai sebagai petunjuk adanya mineralisasi. Alasan penggunaan unsur penunjuk antara lain:
· Unsur ekonomis yang diinginkan sulit dideteksi atau dianalisis.
· Unsur yang diinginkan deteksinya mahal.
· Unsur yang diinginkan tidak terdapat dalam materi yang diambil (akibat perbedaan mobilitas).
C. PERENCANAAN
EKSPLORASI GEOKIMIA
Karena eksplorasi mineral makin lama
makin sulit, mahal, dan kompetitif, maka eksplorasi perlu dilakukan seefisien
mungkin, dengan biaya yang betul-betul efektif. Tiap eksplorasi geokimia terdiri
dari tiga komponen, yaitu sampling (pengambilan contoh), analisis, dan
interpretasi. Ketiganya merupakan fungsi bebas yang saling terkait. Kegagalan
pada tahap yang satu akan mempengaruhi tahap berikutnya.
1. Pemilihan
Metode
Pemilihan teknik tergantung pada
mineralogi dan geokimia daerah target. Komposisi badan bijih akan menentukan
unsur yang dapat digunakan. Contohnya Cu sangat ideal untuk endapan tembaga,
tapi As sangat berguna dalam pencarian mineralisasi emas, dll. Lebih jauh lagi
mineralogi daerah target dikombinasikan dengan lingkungan sekunder (pola
dispersinya). Contohnya dispersi Cu bisa hidromorfik dan mekanis, sedangkan
timah putih sangat khas, hampir selalu mekanis sebagai butiran kasiterit, atau
terdapat dalam biotit atau mineral asesori lainnya.
Penyontoan di permukaan akan efektif
untuk tipe 1) dan 2), tapi perlu antisipasi untuk respon geokimia yang berbeda.
Kasus 3) dan 4) perlu teknik yang optimum yang dapat mendeteksi melalui
penutup, bawah penutup, gas bocor dari mineralisasi, atau mendeteksi halo
(lingkaran) sekitar batuan.
Survey geokimia diterapkan pada
berbagai tahapan eksplorasi mineral, yaitu:
·
Survey
regional dengan tujuan mencari jalur mineralisasi.
·
Survey
lokal dengan tujuan mengidentifikasi daerah target untuk keperluan evaluasi.
·
Survey
kekayaan dengan tujuan menentukan batas daerah termineralisasi.
·
Survey
deposit dengan tujuan menentukan lokasi dari badan bijih individual.
2. Optimasi
Teknik Survey
Untuk optimasi survey geokimia perlu
dilakukan identifikasi target yang maksimum. Suatu target perlu jelas terlihat
dalam data geokimia, mungkin dicirikan oleh adanya penambahan atau pengurangan
kelimpahan unsur tertentu atau asosiasinya. Target harus mudah dibedakan dari
data survey lainnya. Dengan kata lain perlu adanya kontras geokimia yang
maksimum (anomali). Pengambilan contoh, penyiapan contoh, dan pemilihan metode
analitis dapat mempengaruhi kontras.
Pengamatan kontras anomali yang
optimum dimulai di lapangan melalui pengenalan sekitar lingkungan lokal yang
akan mempengaruhi proses dispersi, tempat-tempat yang mungkin mengalami
pelindian atau peningkatan akibat perembesan, kehadiran pengendapan sekunder,
perkembangan tanah yang tidak normal, dan distribusi tanah penutup yang
tertranspor. Catatan lapangan merupakan bagian survey yang penting yang dapat
digunakan bersama-sama dengan analisis data untuk interpretasi.
Pengambilan contoh merupakan hal
paling penting dalam eksplorasi geokimia. Preparasi contoh yang baik dapat juga menunjang
kontras yang baik. Thomson (1978) mendemonstrasikan bahwa analisis Zn pada
fraksi -0+35 mesh dari material tanah yang diambil pada kedalaman 20 cm dari
tanah semi residu di gurun Saudi Arabia menghasilkan kontras maksimum di atas
badan mineralisasi Zn. Sebaliknya pada fraksi -150 mesh tanah yang sama
mengalami dilusi oleh material barren aeolian sehingga
kontras dan dispersinya jauh berkurang.
Jarak pengangkutan logam oleh air tanah dari pelapukan sulfida sangat
bervariasi dan dapat menghasilkan pola geokimia yang sulit untuk
diinterpretasikan. Konsentrasi logam yang tinggi karena pengendapan sekunder
mengikuti pola hidromorfik, scavenging dll. Sering dicirikan oleh bentuk mineral
yang lemah dan tidak stabil yang unsur-unsurnya dapat direcovery dengan teknik analisis yang lemah.
3. Parameter
Survey
Tantangan dalam survey geokimia
adalah mendesign program yang efektif, pada prakteknya adalah membuat keputusan
tentang pemilihan point-point berikut ini.
· Material Sample
· Pola penyontoan
· Preparasi conto
· Prosedur Analitis
· Kriteria interpretasi hasil
Untuk membuat keputusan diperlukan
pengetahuan atau asumsi tentang keadaan daerah survey. Artinya diperlukan
rujukan infomasi yang relevan tentang:
· Dispersi dan karakter mobilitas dari
unsur dalam mineral dan batuan induk
· Pengaruh lingkungan lokal pada
proses dispersi
· Ukuran target, baik ukuran
mineralisasi maupun ukuran yang diharapkan dari lingkaran dispersi
sekelilingnya
· Ketersediaan material contoh
· Kemampuan analitis
· Kondisi logistik
Lingkungan lokal dapat mempengaruhi
proses dispersi. Faktor yang paling penting yang berhubungan dengan iklim dan
topografi adalah material/tanah di daerah survey, apakah tertranspor atau
residu. Jika tertranspor, asalnya dari apa, kolovium, aluvium? Material eksotis
seperti sedimen berlapis, aluvial, pasir fluvial, abu vulkanik, menutupi batuan
dasar, tetapi tidak mengekspresikan geokimia dari batuan yang berada di
bawahnya.
Ukuran target akan mempengaruhi
pemilihan interval pengambilan contoh. Arah orientasi tertentu dari target juga
harus dipertimbangkan dalam lintasan dan grid pengambilan contoh. Idealnya,
grid pengambilan contoh dibuat dengan garis dasar
sejajar terhadap sumbu panjang target. Garis lintangnya tegaklurus terhadap
garis dasar tadi untuk mendapatkan kemungkinan irisan maksimum.
Survey geokimia yang ideal
didasarkan pada penyontoan yang sistematis dan beraturan untuk memperoleh
database yang homogen, agar dapat dilakukan evaluasi komparatif dari gejala
geokimia. Oleh karena itu penting sekali untuk memilih medium penyontoan yang
seragam di seluruh daerah survey. Teknik
preparasi dan teknik analitis harus dipilih yang dapat menghasilkan data yang
dapat dipercaya dan menunjang kontras yang optimum.
4. Studi
Orientasi
Studi orientasi digambarkan sebagai
suatu seri percobaan pendahuluan untuk menentukan karakter dispersi geokimi
yang berhubungan dengan mineralisasi pada daerah tertentu. Informasi tadi
digunakan untuk:
·
Mendefinisikan
bakcground dan respon geokimia yang abnormal
·
Mendefinisikan
prosedur survey yang optimum.
·
Mengidentifikasi
faktor-faktor yang mempengaruhi dispersi dan kriteria interpretasi hasil survey.
·
Mengenali
gejala-gejala yang harus dicatat dan dilaporkan oleh pengambil contoh.
Orientasi sample tanah harus diambil
minimal dari dua lintasan melalui mineralisasi dan dilanjutkan ke dalam background. Spasi pengambilan contoh tergantung pada
luas mineralisasi. Minimal empat atau lima contoh di atas mineralisasi dan juga
dari background. Penting agar karakter tanah yang berbeda
dievaluasi. Hasilnya,
lintasan ini harus mencakup kondisi fisiografi normal dan tipe major tanah,
seperti daerah yang penirisan baik lereng curam, daerah rembesan, dan rawa.
5. Studi
Literatur
Tidak praktis untuk mengunjungi
lapangan dan melakukan survey orientasi sebelum program eksplorasi dibuat. Informsi yang berguna dapat
diperoleh dari penyelidikan terdahulu yang telah dilakukan orang.Bisa berupa
paper atau dokumen intern perusahaan. Seringkali dapat dilakukan orientasi
terbalik dengan mengevaluasi survey terdahulu secara kristis. Survey literatur
sebaiknya disertakan dalam diskusi dengan orang yang mengetahui kondisi daerah
survey dan ahli geokimia yang profesional.
6. Orientasi
Teoritis
Pendekatan yang sangat spekulatif
ini berdasarkan pada aplikasi model teoritis, prinsip-prinsip dasar geokimia,
asumsi-asumsi geologi, geomorfologi dan iklim dari daerah yang diselidiki.
D. TIPE
SURVEY GEOKIMIA
1. Survey
Sedimen Sungai Aktif (Stream Sediment)
Survey sedimen sungai aktif banyak
digunakan untuk program penyelidikan pendahuluan, khususnya pada daerah yang
medannya sulit. Di daerah tropis, pengambilan contoh sedimen sungai dapat dilakukan
bersamaan dengan pengamatan geologi dari float dan
batuan dasar yang tersingkap.
Ada empat variasi dalam survey
sedimen sungai aktif , yaitu:
· Prospeksi mineral berat tanpa
analisis kimia
· Analisis konsentrasi mineral berat
dari sedimen sungai
· Analisis fraksi halus dari sedimen
sungai
· Analisis beberapa fraksi selain
fraksi terhalus dari sedimen sungai
2. Prospeksi
mineral berat
Teknik ini merupakan metode
prospeksi paling tua. Sampai sekarang masih banyak digunakan untuk prospeksi
endapan yang mengandung mineral resisten seperti: kromit, kasiterit, emas,
platina, mineral tanah jarang, rutil, sirkon, turmalin, garnet, silimanit,
kianit dsb. Material contoh yang optimum adalah kerakal dengan diameter
rata-rata 5 cm. Untuk dapat melakukan pembandingan antar contoh, perlu jumlah
contoh yang seragam dengan teknik konsentrasi yang standar. Metode yang paling
sederhana adalah pendulangan atau dengan meja Wilfey. Spasi contoh bervariasi
antara satu per 50 – 100 km2 sampai l satu per 0,5 km2. Waktu yang diperlukan tergantung ukuran butir
contoh, keadaan medan dan metode konsentrasi. Identifikasi akhir dari mineral
dilakukan secara petrografis di laboratorium.
3. Analisis
konsentrat mineral berat dari sedimen
Konsentrat mineral berat yang
diperoleh dianalisis unsur jejaknya untuk mengetahui mineral asalnya. Contohnya
pirit dipisahkan dari sedimen sungai dan dianalisis Cu-nya. Pirit yang berasal
dari endapan Cu dapat mengandung 1100–1700 ppm Cu, pirit dari endapan Au
mengandung 40–480 ppm Cu, dan pirit dari batubara menandung 100 -120 ppm Cu.
4. Analysis
fraksi halus sedimen sungai aktif
Pengambilan contoh sedimen sungai
aktif fraksi halus banyak digunakan di daerah yang drainagenya cukup besar dan
mengalami erosi aktif. Kerapatan contoh ditentukan oleh kerapatan drainage,
namun secara kasar kerapatan contoh dapat diambil satu per 2 –10 km2untuk survey regional, kerapatan contoh satu per 0,5
– 2 km2 digunakan untuk penyontoan pendahuluan yang
lebih rinci.
Survey sedimen sungai aktif harus
dilakukan pada sungai kecil, sedangkan sungai yang besar dengan catchment area
yang luas tidak sesuai untuk penyontoan. Interval penyontoan tergantung pada
keperluan. Teknik yang dilakukan umumnya sebagai berikut :
·
Contoh
diambil dari muatan dasar sungai yang bergerak.
·
Menganalisis
fraksi ukuran tertentu (umumnya fraksi pasir halus dan silt atau fraksi mineral
berat).
Deskripsi lapangan perlu dilakukan
pada tiap lokasi contoh Informasi harus mencakup: material organik, sifat
sungai dan endapannya, kehadiran singkapan, apakah dijumpai endapan besi oksida
atau mangan oksida sekunder. Pengukuran pH air sungai akan sangat berguna.
Berikut ini adalah contoh lembar pengamatan lapangan.
Langkah pertama penyajian hasil
survey drainage adalah mengeplot semua sungai yang ada di daerah penyelidikan
dan mengeplot nomor contoh dan nilainya. Setelah dilakukan pengolahan data
secara statistik dapat dilakukan pemilihan background dan threshold. Lokasi contoh dapat
ditandai dengan titik hitam, yang ukurannya menunjukkan kandungan logamnya atau
dengan menebalkan sungai yang kandungannya logamnya lebih tinggi.
Dalam eksplorasi mineral, data
sedimen sungai aktif biasanya tidak harus disajikan dalam bentuk peta kontur,
tetapi dalam survey regional bentuk peta kontur lebih praktis untuk melihat
kecenderungan geologi regional, kemungkinan daerah mineralisasi dan mendala
geokimia
Pekerjaan lanjut (Follow-up work )
biasa dilakukan dengan interval contoh yang lebih rapat. Jika pada survey
pendahuluan kerapatan contoh cukup tinggi, maka survey dapat dilanjutkan dengan
pengambilan contoh tanah. Sebagai tahap awal dari survey tanah detil dapat
dilakukan penyontoan tebing sungai dari kedua tepi sungai yang menunjukkan
anomali, sehingga dapat terlihat arah asal dari anomali. Jika singkapannya
bagus, pemetaan geologi dan prospeksi mungkin sudah cukup untuk melokalisasi
sumber unsur anomali, namun umumnya memerlukan survey tanah.
5. Survey
Tanah
Warna tanah dan perbedaan komposisi
dapat merupakan indikator yang penting untuk berbagai kandungan logam.
Contohnya, tanah organik dan inorganik reaksinya akan berbeda terhadap logam
(kandungan logamnya berbeda). Dari kedua tipe ini dapat diharapkan perbedaan
level background yang jelas. Mengabaikan
perbedaan ini akan mengakibatkan kesalahan dalam pengambilan keputusan
eksplorasi, yaitu anomali yang signifikan tidak terlihat dan anomali yang salah
Anomali yang salah umumnya berkaitan
erat dengan komponen yang menunjukkan konsentrasi unsur yang ekstrim, seperti
pada material organik dan mineral lempung, juga unsur jejak dalam airtanah.
Kegagalan mendefinisikan kondisi
anomali (yang menunjukkan adanya mineralisasi) dapat terjadi jika contoh tidak
berhasil menembus zona pelindian. Ini sering terjadi pada pengambilan contoh
yang tergesa-gesa, sehingga bukti mineralisasi tidak terlihat.
Unsur jejak yang dikandung contoh
tanah umumnya mewakili daerah terbatas. Oleh karena itu diperlukan sejumlah contoh
yang diambil secara sistematis untuk mengevaluasi sifat-sifat mineralisasi. Perencanaan
penyontoan biasanya mengikuti grid bujur sangkar atau empat persegi panjang. Contoh tambahan diambil dari
lingkungan yang berasosiasi dengan akumulasi unsur jejak, seperti zona depresi
atau rembesan untuk menguji dispersi hidromorfik dari badan mineral yang
tertimbun.
Survey tanah terdiri dari analisis
contoh tanah yang biasanya diambil dari horizon tanah khusus, kemudian diayak
untuk mendapatkan ukuran fraksi tertentu. Contoh umumnya diambil pada pola kisi
(grid) yang beraturan. Di daerah yang terisolir dengan medan yang sulit, akan
sulit pula untuk membuat grid pengambilan contoh yang baik.
Metode alternatif yang dapat
digunakan adalah penyontoan ridge dan spur. Metode
ini sangat baik dikombinasikan dengan survey sedimen sungai untuk medan yang
sulit. Metode pengambilan contoh yang paling ideal adalah dengan grid yang
teratur. Prosedur
yang normal adalah menentukan garis dasar kemudian buat lintasan yang tegak lurus
terhadap garis dasar. Penentuan garis dapat dilakukan dengan theodolit atau
kompas.
Pemilihan grid yang digunakan
tergantung pada tipe target yang dicari. Jika diketahui bahwa mineralisasi di
daerah itu memiliki dimensi panjang searah dengan jurus, seperti mineralisasi
vein atau unit stratigrafi, maka garis dasar harus diletakan paralel terhadap
jurus. Contoh
diambil sepanjang garis lintang yang tegak lurus pada garis dasar. Dalam kasus ini interval antar garis
bisa lebih besar dari interval contoh sepanjang garis dasar. Jika jurusnya tidak dikenal dan
targetnya diduga equidimensional, maka pengambilan contoh dilakukan dengan grid
yang berbentuk bujur sangkar.
Untuk praktisnya sering digunakan
grid segi empat panjang, karena penambahan frekuensi smpling sepanjang garis
dasar tidak membutuhkan banyak waktu. Ukuran grid yang digunakan umumnya 500 m
x 100 m atau 200 m x 200 m untuk survey pendahuluan dan 100 m x 50 m atau 50 m
x 50 m untuk survey detil. Kadang-kadang digunakan juga grid jajaran genjang .
Pengambilan
contoh :
· Contoh tanah umumnya diambil pada horizon B, pada kedalaman 30 – 50 cm. Untuk
unsur tertentu seperti Ag dan Hg horizon A dapat memberikan hasil yang lebih
baik. Pada daerah yang keras dan kering contoh diambil dengan menggali lubang
kecil dengan menggunakan sekop dan cangkul. Jika tanah lunak dan lembab dapat
digunakan sekop kecil atau hand auger. Contoh
ditempatkan pada kantong contoh standar, diberi nomor dan keterangan singkat
yang mencakup tipe tanah, warna, kandungan organik. Gejala khusus sepanjang
lintasan perlu dicatat, contohnya singkapan, jalan setapak, sungai.
· Sistem penomoran tergantung pada
pola pengambilan contoh. Untuk pola grid lebih baik menggunakan sistem
koordinat dengan mengambil titik 0 pada garis lintasan dasar, dan memberi nomor
rujukan pada tiap garis lintang. Namun penomoran alfanumerik kurang praktis
untuk analisis laboratorium. Cara penomoran lainmenggunakan kode enam sampai
delapan digit yang merupakan kode proyek, daerah dan nomor contoh, misalnya
nomor 2040325 bisa berarti proyekk 2, kode daerah 04, contoh 0325. Tipe ini
lebih baik untuk pengolahan data dengan komputer.
· Di daerah kering dan banyak
matahari, contoh dapat dikeringkan di tempat terbuka di camp, tapi di daerah
basah dibutuhkan alat pengering. Jika contoh sudah kering, dapat digerus dan
diayak. Di daerah tropis yang didominasi tanah latosol penggerusan dapat
dilakukan dengan mortar agar agregat oksida besinya hancur. Ayakan dari
stainless steel atau dari nilon dapat digunakan Sebelum mengayak tiap-tiap
sampel, ayakan harus bersih. Ayakan dapat dibersihkan dengan kuas ukuran 3,5 cm
atau 5 cm. Hasil pengayakan dimasukkan ke dalam amplop kertas, kemudian ke
dalam kantong plastik agar tidak bocor atau terkontaminasi pada waktu
pengangkutan. Fraksi ukuran yang umum untuk contoh geokimia adalah -80 mesh
(0,2 mm), tapi ukuran yang lebih halus atau lebih kasar dapat digunakan untuk
kasus-kasus tertentu.
· Pada daerah baru yang belum
diselidiki dianjurkan untuk melakukan survey orientasi untuk menentukan fraksi
ukuran yang optimum untuk analisis, kedalaman penyontoan yang terbaik , jika
mungkin respons geokimia dari mineralisasi .
Hasi survey tanah biasanya disajikan
dalam bentuk peta kontur yang mengacu pada isopleth (garis yang konsentrasinya
sama). Selang antar kontur dapat digambarkan dengan warna atau arsir. Tiap titik contoh dan harganya harus diperlihatkan,
tapi nomornya tidak perlu diterakan agar tidak membingungkan. Pola pengambilan contoh yang tidak beraturan dapat disajikan
dalam peta dot, atau dengan memberikan warna yang berbeda pada setiap titik
contoh.
Survey lanjut (follow-up) dilakukan dengan spasi grid yang lebih
rapat. Contohnya suatu anomali yang terdapat pada grid penyelidikan pendahuluan
500×200 m dapat dipenyontoan lagi dengan grid 250×100 m atau lebih rapat lagi,
tapi grid yang lebih rapat dari 25×25 m umumnya kurang menguntungkan, kecuali
jika target yang diharapkan berupa vein yang sangat kecil atau pegmatit. Jika
hasil survey lanjut menjanjikan, maka pada daerah anomali dapat dilnjutkan
dengn survey geofisika sebelum diputuskan dilakukan pemboran.
6. Survey
Batuan
Dalam rangka mendapatkan informasi
kelimpahan background dari unsur yang
dianalisis dalam survey tanah atau sedimen sungai aktif perlu dilakukan
sedikitnya pengambilan contoh batuan secara terbatas.
Survey batuan dapat dilakukan
sendiri untuk mendeteksi kemungkinan dispersi primer yang berasosiasi dengan
bijih. Survey batuan dapat digunakan untuk prospeksi mineralisasi pada kondisi
berikut:
·
Prospeksi
bijih yang meghasilkan pola dispersi batuan dasar yang luas (contohnya seperti
Si, K, F, Cl dapat dijumpai pada lingkaran alterasi yang ekstensif mengitari
bijih hidrotermal).
·
Prospeksi
untuk endapan yang luas berkadar rendah (contohnya endapan Cu yang tersebar
atau endapan Sn yang tersebar) yang pengenalannya tidak mungkin dilakukan dari
contoh setangan karena kadarnya rendah atau mineral yang dicari tidak terlihat.
Pengambilan contoh batuan bisa
dilakukan dengan chip sampling secara acak pada
singkapan atau dengan pemboran dengan pola grid (bor auger untuk kedalaman yang
kecil, atau denganrotary percussion untuk daerah
yang overburdennya tebal). Contoh batuan, yang diperoleh digerus dan diayak.
Fraksi –80 mesh dianalisis.
7. Survey
Air
Analisis air dari sungai, mata air,
danau, rawa sumur, dan sumur bor, dapat dilakukan dalam prospeksi, tetapi
kesulitan analisis sehubungan dengan rendahnya konsentrasi, ditambah lagi
fluktuasi yang cepat akibat variasi musim menghambat meluasnya penggunaan metode
ini.
Airtanah bisa kontak dengan batuan
dan melarutkan unsur-unsur dan terjadi kesetimbangan kimia yang erat kaitannya
dengan kimia yang dikandung oleh akifer. Air tanah mengandung padatan
terlarut yang bervariasi dari satu tempat ke tempat lainnya. Contohnya air dari ladang minyak
dengan endapan halit dapat mengandung padatan terlarut yang lebih banyak dari
air laut atau airtanah biasa. Namun airtanah digunakan juga dalam eksplorasi
mineral, umumnya dari sumber yang dangkal.
Air sungai dan danau umumnya berasal
dari air permukaan, tapi air tanah dapat memberi kontribusi melalui mata air
dan sungai bawah tanah. Air danau dan sungai memperlihatkan kandungan padatan
terlarut yang lebih bervariasi, karena adanya variasi penambahan air permukaan
yang besar dan tiba-tiba, yang akan merubah pH, Eh, dan lingkungan kimia dalam
jarak yang sangat pendek.
Contoh diambil di lapangan dengan
botol plastik yang bersih (250 – 500 ml) yang telah dicuci dua sampai tiga
kali. Agar
bebas kontaminasi botol harus dibersihkan dengan asam yang bebas logam sebelum
dibawa ke lapangan. Untuk
praktisnya, contoh diasamkan dengan dua atau tiga tetes asam nitrit bebas logam
untuk mencegah pengendapan logam yang ada. Jika diperlukan pengukuran pH dan Eh
atau penentuan substansi yang mungkin dipengaruhi oleh asam, maka perlu diambil
contoh duplikat atau melakukan pengukuran ditempat. Jika contoh mengandung padatan
suspensi, maka perlu dilakukna filtrasi, tapi biasanya dilakukan di
laboratorium sebelum analisis.
8. Survey
Biogeokimia
Filosofinya adalah, bahwa akar
tanaman menunjam jauh ke dalam tanah dan mengambil makanan dari batuan dasar
yang lapuk. Contohnya tanaman teh telah memperlihatkan batas-batas anomali Ni
di Australia Barat. Keuntungan metode ini dibandingkan dengan metode lainnya,
yaitu dapat dilakukan untuk:
· Prospeksi di daerah yang tanah
penutupnya tertranspor.
· Prospeksi di daerah berawa.
· Prospeksi di daerah yang vegetasinya
sangat rapat.
Tanaman mengambil makanan dari tanah
melalui akarnya. Dengan
membandingkan konsentrasi unsur dalam jaringan tanaman dengan konsentrasi unsur
dalam tanah, unsur-unsur dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama terdiri dari unsur biogenic mencakup H, C, N, P, dan S,
merupakan unsur pembangun jaringan tanaman, konsentrasinya di atas konsentrasi
unsur-unsur tersebut dalam tanah.
Kelompok kedua berupa unsur yang jejak yang
diperlukan utuk pertumbuhan yang sehat, terdiri dari B, Mg, K, Ca, Mn, Fe, Cu
dan Zn yang konsentrasinya dalam tanaman hampir sama dengan dalam tanah.
Kelompok ke tiga adalah unsur yang tidak diperlukan
atau unsur toksik, antara lain Pb, Sr, HG, Be, U, NI, Cr, Ag, Sn, dan
Se. Unsur toksik mungkin diperlukan dalam jumlah yang sangat sedikit, sedangkan
unsur yang diperlukan bisa menjadi toksik jika hadir dalam konsentrasi yang
tinggi.
Pada tanah dengan konsentrasi Pb,
Cu, Hg dan Ni tinggi, pertumbuhan vegetasi terhambat atau terbatas pada jenis
tertentu. Ada
tanaman yang toleran terhadap konsentrasi toksik yang tinggi, adapula yang
seolah-olah membutuhkan unsur toksik untuk dapat mulai tumbuh. Tanaman yang demikian disebut
tanaman indikator. Yang
paling dikenal adalah bunga tembaga di Zambia dan tanaman Selenium di Amerika. Kehadiran bunga tembaga menjadi
indikasi konsentrasi Cu ratusan sampai ribuan ppm. Tanaman selenium menjadi indikator
yang baik untuk mineralisasi uranium karena Se sering menyertai U. Daun yang
menguning (chlorosis) dapat disebabkan oleh konsentrasi unsur Cu, Zn, Mn dan
Ni.Penelitian biogeokimia dalam prospeksi dilakukan sejah tahun 1930. Material
tanaman yang dikumpulkan dijadikan abu, untuk menghilangkan unsur biogenik
penyusun jaringan, unsur yang dicari akan dijumpai dalam residu (abu). Abu
umumnya mencapai 1-3% berat, sehingga unsur yang dicari akan terkonsentrasi
sampai 100 kalinya dari unsur asal dalam jaringan.
Untuk melakukan survey biogeokimia,
sedikitnya diperlukan 300 gram material dari tiap tanaman. Tanaman muda dan kurus umumnya
memberikan hasil yang paling baik. Contoh dapat divariasikan dengan
spesies yang berbeda, tapi menggunakan satu spesies lebih praktis. Pengambilan contoh harus sedekat mungkin pada gridnya. Setelah contoh dimasukkan ke dalam kantung,
material dikeringkan dan dapat dikirim ke laboratorium untuk dijadikan abu dan
dianalisis, atau dapat dibiarkan hangus di udara atau dalam oven, kemudian
masukan ke dalam kantung contoh
dan dikirim ke laboratorium. Sebelum contoh dianalisis, dilakukan pengabuan
terlebih dulu pada temperatur 450° – 500° C. Temperatur ini terlalu tinggi
untuk Sb, Hg , Se, dan Te, sehingga perlu menggunakan metode pengabuan basah.
9. Survey
Gas
Suatu teknik yang masih sedang
dikembangkan adalah pengambilan contoh gas untuk mencari anomali unsur volatil
di sekitar bijih. Saat
ini perhatian difokuskan pada pendeteksian gas Hg di sekitar berbagai endapan
bijih. Sejumlah volume udara dilewatkan melalui suatui filter yang dapat
menangkap uap Hg untuk dianalisis kemudian. Pengambilan contoh dapat dilakukan
dekat permukaan (misalnya melalui satu unit perangkat yang dipasang pada
kendaraan beroda empat), dalam tanah, atau dengan pesawat yang terbang rendah.
Keterbatasan metode ini adalah:
· Konsentrasi gas yang diukur umumnya
rendah.
· Sulit menentukan lokasi anomali yang
akurat.
· Peka terhadap kondisi cuaca.
· Memelukan endapan bijih yang
mengandung Hg yang cukup.
Tipe penyelidikan lain adalah
inderaja digunakan untuk mendeteksi hidrokarbon dalam prospeksi minyak dan
untuk mendeteksi gas-gas radiogenik seperti Rn, He, dan Xe dalam prospeksi U
dan Th. Gas radiogenik ini luruh dalam paruh waktu yang pendek (Rn220 54 jam, Rn222 4 hari)
yang membatasi ukuran pola dispersi yang dapat dikenal. Walau begitu Rn222banyak digunakan dalam prospeksi uranium, dan
kadang-kadang berhasil.Gas seperti H2S, SO2, I2, CO2, N2 dan O2 memiliki potensi dalam prospeksi, tetapi pada
saat ini banyak yang belum dieksploitasi.
E. Metode Analitis
Dalam
eksplorasi geokimia tidak perlu mengutamakan akurasi yang tinggi, yang penting
cepat, tidak mahal dan sederhana.Metode yang banyak digunakan dalam prospeksi
geokimia adalah kromatografi, kolorimetri, spektroskopi emisi, XRF, dan AAS.
Metode lain yang juga digunakan dalam kasusu khusus adalah aktivasi neutron,
radiometri dan potensiometri.
1.
AAS
(Atomic absorption spectroscopy)
Atomic absorption spectroscopy (AAS) adalah prosedur
spectroanalytical untuk penentuan kuantitatif unsur kimia menggunakan
penyerapan radiasi optik (cahaya) oleh atom-atom bebas dalam keadaan gas.
Dalam kimia analitik teknik ini digunakan untuk
menentukan konsentrasi elemen tertentu (analit) dalam sampel yang akan
dianalisis. AAS dapat digunakan untuk menentukan lebih dari 70 elemen yang
berbeda dalam larutan atau langsung dalam sampel padat digunakan dalam
farmakologi, biofisika dan penelitian toksikologi.
Gambar
alat yang di gunakan dalam metodeAAS (Atomic absorption spectroscopy)
Spektrometri serapan atom pertama kali digunakan sebagai
teknik analitis, dan prinsip-prinsip dasar yang didirikan pada paruh kedua abad
ke-19 oleh Robert Wilhelm Bunsen dan Gustav Robert Kirchhoff, baik profesor di
Universitas Heidelberg, Jerman.Bentuk modern AAS sebagian besar dikembangkan
selama tahun 1950 oleh sebuah tim ahli kimia Australia. Mereka dipimpin oleh
Sir Alan Walsh pada CSIRO (Commonwealth Scientific and Industrial Research
Organization), Divisi Kimia Fisika, di Melbourne, Australia.
Teknik ini memanfaatkan spektrometri serapan untuk
menentukan konsentrasi suatu analit dalam sampel. Hal ini membutuhkan standar dengan kandungan analit
dikenal untuk membangun hubungan antara absorbansi diukur dan konsentrasi
analit dan karenanya bergantung pada hukum Beer-Lambert. Singkatnya elektron dari atom dalam alat
penyemprot dapat dipromosikan ke orbital yang lebih tinggi (keadaan
tereksitasi) untuk waktu singkat (nanodetik) dengan menyerap kuantitas
didefinisikan energi (radiasi dari panjang gelombang tertentu). Ini jumlah energi, yaitu panjang gelombang,
adalah khusus untuk transisi elektron tertentu dalam elemen tertentu.
Secara umum, setiap panjang gelombang sesuai dengan hanya
satu elemen, dan lebar jalur penyerapan hanya dari urutan dari beberapa
picometers (pm), yang memberikan teknik selektivitas unsurnya. Radiasi fluks
tanpa sampel dan dengan sampel dalam atomizer yang diukur dengan menggunakan
detektor, dan rasio antara dua nilai (absorbansi) dikonversi menjadi analit
konsentrasi atau massa menggunakan hukum Beer-Lambert.
2.
XRF
(X-ray fluorescence)
X-ray fluorescence (XRF) adalah emisi karakteristik
"sekunder" (atau neon) sinar-X dari materi yang telah gembira dengan
membombardir dengan sinar-X berenergi tinggi atau sinar gamma. Fenomena ini
banyak digunakan untuk analisis unsur dan analisis kimia, terutama dalam
penyelidikan logam, kaca, keramik dan bahan bangunan, dan untuk penelitian
dalam geokimia, ilmu forensik dan arkeologi.
Gambar
alat yang di gunakan dalam metode XRF (X-ray fluorescence)
Dalam analisis energi dispersif, dispersi dan deteksi
adalah operasi tunggal, seperti yang sudah disebutkan di atas. Counter
proporsional atau berbagai jenis solid-state detektor (dioda PIN, Si (Li), Ge
(Li), Silicon Drift Detector SDD) digunakan. Mereka semua berbagi sama deteksi
prinsip: An X-ray foton masuk ionises sejumlah besar atom detektor dengan
jumlah muatan yang dihasilkan yang sebanding dengan energi foton yang masuk.
Tuduhan ini kemudian dikumpulkan dan proses berulang untuk foton berikutnya. Kecepatan
Detector jelas penting, karena semua pembawa muatan diukur harus datang dari
foton yang sama untuk mengukur energi foton dengan benar (diskriminasi panjang
puncak digunakan untuk menghilangkan peristiwa yang tampaknya telah diproduksi
oleh dua foton sinar-X tiba hampir bersamaan).
Spektrum ini kemudian dibangun dengan membagi spektrum
energi ke sampah diskrit dan menghitung jumlah pulsa yang terdaftar dalam
setiap bin energi. Jenis detektor EDXRF bervariasi dalam resolusi, kecepatan
dan sarana pendingin (rendahnya jumlah pembawa muatan bebas sangat penting
dalam detektor solid state): counter proporsional dengan resolusi beberapa
ratus eV menutupi low end dari spektrum kinerja, diikuti dengan PIN detektor
dioda, sedangkan Si (Li), Ge (Li) dan Detektor Drift Silicon (SDD) menduduki
high end dari skala kinerja.
Dalam analisis dispersif gelombang, radiasi panjang
gelombang tunggal yang dihasilkan oleh monokromator dilewatkan ke
photomultiplier, detektor mirip dengan Geiger counter, yang menghitung foton
individu ketika mereka melalui. Counter adalah ruang yang berisi gas yang
terionisasi oleh X-ray foton. Sebuah pusat elektroda dikenakan biaya (biasanya)
1700 V sehubungan dengan dinding ruang melakukan, dan masing-masing foton
memicu kaskade pulsa-seperti saat ini di bidang ini. Sinyal diperkuat dan diubah menjadi mengumpulkan hitung
digital. Hitungan ini kemudian
diproses untuk mendapatkan data analitis.
EDX spektrometer lebih unggul spektrometer WDX dalam
bahwa mereka lebih kecil, sederhana dalam desain dan memiliki bagian rekayasa
sedikit. Mereka juga dapat
menggunakan tabung sinar-X miniatur atau sumber gamma. Hal ini membuat mereka lebih murah dan memungkinkan
miniaturisasi dan portabilitas. Jenis
instrumen ini umumnya digunakan untuk aplikasi penyaringan kontrol kualitas
portabel, seperti pengujian mainan untuk timbal (Pb), menyortir potongan logam,
dan mengukur kandungan timbal cat perumahan. Di sisi lain, resolusi rendah dan
masalah dengan menghitung tingkat rendah dan lama mati-waktu membuat mereka
rendah untuk analisis presisi tinggi. Mereka adalah, bagaimanapun, sangat
efektif untuk kecepatan tinggi, analisis multi-unsur. Lapangan portabel XRF
analisis saat ini di pasar berat kurang dari 2 kg, dan memiliki batas deteksi
pada urutan 2 bagian per juta timbal (Pb) dalam pasir murni.
3.
XRD
(X-ray Diffraction)
X-ray Diffraction adalah metode yang digunakan untuk
menentukan struktur atom dan molekul kristal, di mana atom kristal menyebabkan
berkas sinar-X untuk lentur ke banyak arah tertentu. Dengan mengukur sudut dan
intensitas dari berkas difraksi, crystallographer dapat menghasilkan gambar
tiga dimensi kepadatan elektron dalam kristal. Dari kerapatan elektron ini,
posisi rata-rata dari atom dalam kristal dapat ditentukan, serta ikatan kimia
mereka, gangguan mereka dan berbagai informasi lainnya.
Gambar
alat yang di gunakan dalam metodeXRD (X-ray Diffraction)
Karena banyak bahan dapat membentuk kristal-seperti
garam, logam, mineral, semikonduktor, serta berbagai anorganik, organik dan
biologi molekul-kristalografi sinar-X telah mendasar dalam pengembangan
berbagai bidang ilmiah. Pada
dekade pertama penggunaan, metode ini menentukan ukuran atom, panjang dan jenis
ikatan kimia, dan perbedaan skala atom antara berbagai bahan, terutama mineral
dan paduan. Metode ini juga
mengungkapkan struktur dan fungsi dari banyak molekul biologis, termasuk
vitamin, obat-obatan, protein dan asam nukleat seperti DNA. X-ray kristalografi
masih merupakan metode utama untuk mencirikan struktur atom bahan baru dan
bahan cerdas yang muncul mirip dengan eksperimen lain. X-ray struktur kristal
juga dapat menjelaskan sifat elektronik atau biasa elastis material,
menjelaskan interaksi dan proses kimia, atau melayani sebagai dasar untuk
merancang obat-obatan terhadap penyakit.
Dalam pengukuran difraksi sinar-X, kristal dipasang pada
goniometer dan secara bertahap diputar ketika dibombardir dengan sinar-X,
menghasilkan pola difraksi bintik-bintik jarak teratur dikenal sebagai
refleksi. Gambar dua dimensi yang diambil pada rotasi yang berbeda diubah
menjadi model tiga dimensi dari kepadatan elektron dalam kristal menggunakan
metode matematika transformasi Fourier, dikombinasikan dengan data kimia yang
dikenal sebagai sampel. Resolusi miskin (ketidakjelasan) atau bahkan kesalahan
dapat terjadi jika kristal terlalu kecil, atau tidak cukup seragam dalam riasan
internal mereka.
X-ray kristalografi berhubungan dengan beberapa metode
lain untuk menentukan struktur atom. Pola difraksi yang serupa dapat diproduksi
oleh hamburan elektron atau neutron, yang juga diartikan sebagai Transformasi Fourier.
Jika kristal tunggal ukuran yang cukup tidak dapat diperoleh, berbagai metode
X-ray lainnya dapat digunakan untuk memperoleh informasi lebih rinci, metode
tersebut meliputi difraksi serat, difraksi bubuk dan kecil-sudut hamburan
sinar-X (SAXS). Jika bahan dalam penyelidikan hanya tersedia dalam bentuk bubuk
nanokristalin atau menderita kristalinitas miskin, metode kristalografi
elektron dapat diterapkan untuk menentukan struktur atom.
Untuk semua metode difraksi sinar-X yang disebutkan di
atas, hamburan elastis, yang tersebar sinar-X memiliki panjang gelombang yang
sama dengan masuk X-ray. Sebaliknya, metode hamburan sinar-X inelastis berguna
dalam mempelajari Eksitasi sampel, daripada distribusi atom nya.
4.
ICP-MS
(Inductively couple plasma mass
spectrometry)
Inductively couple plasma mass spectrometry (ICP-MS)
adalah jenis spektrometri massa yang mampu mendeteksi logam dan beberapa
non-logam pada konsentrasi rendah sebagai salah satu bagian dalam 1012 (bagian
per triliun). Hal ini dicapai dengan ionisasi sampel dengan coupled plasma
induktif dan kemudian menggunakan spektrometer massa untuk memisahkan dan
mengukur ion tersebut.
Gambar
alat yang di gunakan dalam metodeICP-MS (Inductively couple plasma mass
spectrometry)
Dibandingkan dengan teknik serapan atom, ICP-MS memiliki
kecepatan yang lebih besar, presisi, dan sensitivitas. Namun, analisis dengan ICP-MS juga lebih rentan untuk
melacak kontaminan dari gelas dan reagen.Selain itu, keberadaan beberapa ion
dapat mengganggu deteksi ion lainnya. Berbagai
aplikasi melebihi ICP-OES dan termasuk spesiasi isotop. Karena kemungkinan aplikasi dalam teknologi nuklir,
hardware ICP-MS adalah subjek untuk peraturan ekspor khusus.
Sebuah induktif ditambah plasma plasma yang mendapatkan
energi (terionisasi) oleh induktif memanaskan gas dengan kumparan listrik, dan
mengandung konsentrasi yang cukup ion dan elektron untuk membuat gas konduktif
secara elektrik. Bahkan gas terionisasi sebagian yang sesedikit 1% dari
partikel terionisasi dapat memiliki karakteristik plasma (yaitu, respon
terhadap medan magnet dan konduktivitas listrik tinggi). Plasma yang digunakan
dalam analisis Spektrokimia dasarnya elektrik netral, dengan masing-masing
muatan positif pada ion seimbang dengan elektron bebas. Dalam plasma ini ion
positif hampir semua bermuatan tunggal dan ada beberapa ion negatif, sehingga
ada jumlah yang hampir sama ion dan elektron di setiap satuan volume plasma.
Sebuah coupled plasma induktif (ICP) untuk spektrometri
ditopang dalam obor yang terdiri dari tiga tabung konsentris, biasanya terbuat
dari kuarsa. Akhir dari obor ini ditempatkan di dalam sebuah kumparan induksi
diberikan dengan arus listrik frekuensi radio.Aliran gas argon (biasanya 14
sampai 18 liter per menit) diperkenalkan antara dua tabung terluar obor dan percikan
listrik diterapkan untuk waktu yang singkat untuk memperkenalkan elektron bebas
ke dalam aliran gas. Elektron ini berinteraksi dengan medan magnet frekuensi
radio dari kumparan induksi dan dipercepat pertama dalam satu arah, kemudian
yang lain, karena perubahan bidang pada frekuensi tinggi (biasanya 27.120.000
siklus per detik). Dipercepat elektron bertabrakan dengan atom argon, dan
kadang-kadang menyebabkan tabrakan atom argon untuk berpisah dengan salah satu
elektron. Dirilis elektron pada gilirannya dipercepat oleh medan magnet yang
berubah dengan cepat. Proses berlanjut sampai tingkat pelepasan elektron baru
dalam tabrakan diimbangi oleh laju rekombinasi elektron dengan ion argon (atom
yang telah kehilangan elektron). Ini menghasilkan 'bola api' yang sebagian
besar terdiri dari atom argon dengan fraksi agak kecil dari elektron bebas dan
ion argon. Suhu plasma sangat tinggi, dari urutan 10.000 K.
ICP dapat dipertahankan dalam obor kuarsa karena aliran
gas antara dua tabung terluar membuat plasma jauh dari dinding obor.Aliran
kedua argon (sekitar 1 liter per menit) biasanya diperkenalkan antara tabung
pusat dan tabung menengah untuk menjaga plasma jauh dari ujung tabung
pusat.Aliran ketiga (lagi biasanya sekitar 1 liter per menit) gas dimasukkan ke
dalam tabung pusat obor. Ini aliran gas melewati pusat plasma, di mana ia
membentuk saluran yang lebih dingin dari plasma sekitarnya tapi masih jauh
lebih panas dari api kimia. Sampel yang akan dianalisis yang diperkenalkan ke
saluran pusat ini, biasanya sebagai kabut cairan dibentuk oleh melewati sampel
cairan ke dalam nebulizer.
Sebagai tetesan sampel nebulasi memasuki saluran sentral
dari ICP, menguap dan setiap padatan yang terlarut dalam cairan menguap dan
kemudian terurai menjadi atom. Pada
suhu yang berlaku dalam plasma proporsi yang signifikan dari atom banyak unsur
kimia yang terionisasi, setiap atom kehilangan elektron yang paling longgar
terikat untuk membentuk ion bermuatan tunggal.
F. DAFTAR
PUSTAKA
·
http://wingmanarrows.wordpress.com/2012/05/18/eksplorasi-geokimia-2-perencanaan-eksplorasi-geokimia/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar